Melampaui ilusi, menyentuh Realitas.
Hakikat Dharma (seluruh fenomena) sebenarnya sungguh sempurna. ”Realitas” adalah tanpa cacat. Hanya saja kita tidak mampu menangkap betapa agungnya ”Realitas”/Dharma ini.
Sebagai sebuah contoh, bila anda mendengarkan sebuah melodi, yang sebenarnya anda dengar adalah suara (voice). Namun, bila anda mulai berpikir tentang betapa merdunya melodi ini, atau betapa sumbangnya melodi ini, maka yang anda dengar bukan lagi sebuah ”suara”, namun telah menjadi sebuah ”lagu”.
Perbedaan antara ”suara” dan ”lagu” adalah, suara merupakan sebuah realitas, ia tidak bersifat subjektif maupun objektif. Ia bersifat netral.
Berbeda dengan ”lagu”. ”Lagu” memiliki sifat subjektif dan objektif, dan oleh karenanya terdapat merdu atau sumbang. Bila Subjek (pikiran kita) sesuai dengan objek, maka kita akan menyebutnya sebagai ”merdu”. Bila Subjek bertentangan dengan Objek, maka kita menyebutnya sebagai ”sumbang”.
Di dalam Zen, kita melihat ”lagu” sebagai sebuah ilusi. Karena apa yang anda sebut sebagai ”merdu” atau ”sumbang” tidaklah benar-benar eksis. Anda mungkin menganggap sebuah lagu sebagai merdu. Tetapi coba anda dengarkan lagu tersebut setiap hari non-stop, saya berani menjamin, tidak sampai satu bulan anda akan merasa bosan, pada akhirnya, melodi ”merdu” anda akan berubah menjadi nada ”sumbang”. Pada kenyataannya, merdu dan sumbang tidak memiliki tolak ukur yang pasti, karena ia selalu berubah/impermanent. Oleh karena itulah kita menganggap merdu dan sumbang sebagai ilusi.
Seperti analogi suara dan lagu, demikian pula hidup kita. Terkadang kita sering mengeluh betapa panasnya cuaca, betapa berisiknya tetangga kita, dan masih banyak hal lain yang dirasa sangat ”tidak menyenangkan”. Namun apakah cuaca panas tersebut benar-benar ”mengganggu”? Coba anda pikirkan. Siapa yang mengganggu anda? Matahari yang panas atau pikiran anda yang panas?
Bila kita renungkan sekali lagi, sebenarnya matahari tidak salah, yang bermasalah adalah pikiran anda. Matahari memang sangat menyengat, dan panas, namun itulah ”realitas” matahari, bila tidak demikian tentu itu bukanlah matahari. Bila kita dapat memahami matahari ”sebagaimana adanya”, maka matahari tidak akan mengganggu anda. Kalau panas ya panas, dingin ya dingin. Itu saja! Sama sekali tidak ada pikiran seperti, ”Dasar matahari sialan! Enyah kau...!”. Sekarang coba kita pikir, kalau tidak ada matahari, dunia ini pasti sudah kiamat, betul tidak!? Anda harus meninggalkan ilusi. Jangan hidup dalam ilusi ”menyenangkan” atau ”tidak menyenangkan”. Hiduplah dalam realitas.
Zen adalah bagaimana kita dapat melampaui ”lagu”, dan menemukan hakikat ”suara”, menemukan ”Realitas” dunia, di mana tidak ada baik-buruk, sumbang-merdu. Bila kita dapat hidup seperti itu, maka anda akan hidup selaras dengan alam semesta, dan inilah hidup dalam Nirwana.
Gassho.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar